Selamat Datang di Situs Info Seputar Pendidikan
Showing posts with label Pendidikan Islam. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Islam. Show all posts

Sunday, May 11, 2025

MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH

 MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD ABDUH

 KATA PENGANTAR

Pendidikan Islam telah lama menjadi bagian integral dalam membentuk karakter dan nilai-nilai umat Islam. Dalam konteks dunia yang terus berkembang dan dihadapkan pada tantangan globalisasi, modernisasi pendidikan Islam menjadi isu yang sangat relevan. Salah satu tokoh utama yang memberikan kontribusi besar dalam pemikiran dan reformasi pendidikan Islam adalah Muhammad Abduh, seorang ulama, pemikir, dan reformis dari Mesir pada abad ke-19. Pemikiran Abduh tentang pendidikan Islam tidak hanya menggugah kalangan intelektual pada masanya, tetapi juga memberikan dampak yang luas bagi pembaruan Islam di dunia modern.

Muhammad Abduh menyadari bahwa kemunduran umat Islam, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun teknologi, banyak disebabkan oleh stagnasi dalam sistem pendidikan. Ia menekankan bahwa untuk membangkitkan peradaban Islam, pendidikan harus mengalami pembaruan yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan ajaran Islam yang berbasis pada nilai-nilai moral dan spiritual. Dalam pandangannya, pendidikan Islam tidak hanya berfokus pada aspek agama semata, tetapi juga harus mampu mengakomodasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat di dunia Barat.

Modernisasi pendidikan Islam yang digagas oleh Abduh berfokus pada pembaruan kurikulum, metode pengajaran, serta reformasi dalam pemahaman terhadap ajaran agama. Abduh mengusulkan agar pendidikan Islam membuka ruang bagi ilmu pengetahuan umum, seperti sains, matematika, dan filsafat, yang akan memperkaya wawasan intelektual para pelajar. Selain itu, ia juga menekankan pentingnya penggunaan akal dan ijtihad dalam memahami teks-teks agama, yang bertujuan untuk menyesuaikan ajaran Islam dengan dinamika zaman.

Dari makalah ini penulis akan mencoba memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai gagasan dan kontribusi Muhammad Abduh terhadap modernisasi pendidikan Islam, serta pentingnya pemikiran beliau dalam konteks pendidikan di dunia Islam masa kini.

BAB I 

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan Islam, sebagai salah satu pilar utama dalam pembentukan peradaban umat Islam, memiliki sejarah panjang yang melibatkan upaya-upaya untuk menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya mendalam dalam pengetahuan agama tetapi juga relevan dengan perkembangan zaman. Seiring berjalannya waktu, pendidikan Islam mengalami berbagai tantangan, baik dalam hal kualitas, metode, maupun konten yang diajarkan. Pada abad ke-19, ketika dunia Islam menghadapi penjajahan Barat, krisis sosial, dan kemunduran intelektual, gagasan untuk memperbarui dan memodernisasi pendidikan Islam semakin mendesak. Salah satu tokoh besar yang memainkan peran penting dalam upaya modernisasi ini adalah Muhammad Abduh.

Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 di Mesir dan dikenal sebagai salah satu pemikir dan reformis Islam terbesar pada abad ke-19. Latar belakang pendidikan Abduh yang awalnya dididik dalam tradisi Islam yang kental dengan ajaran mazhab klasik, perlahan-lahan membawanya untuk menentang pandangan yang terlalu dogmatis dan menginginkan pembaruan dalam cara pandang umat Islam terhadap agama dan dunia modern.

Abduh terinspirasi oleh pemikiran Jamal al-Din al-Afghani, seorang intelektual yang mengusung ide pan-Islamisme dan pentingnya kebangkitan dunia Islam untuk menghadapi tantangan Barat. Abduh bersama al-Afghani mengajukan bahwa dunia Islam harus bangkit kembali dengan merombak sistem pendidikan, politik, dan sosial yang sudah usang dan tidak mampu bersaing dengan kemajuan yang dicapai oleh negara-negara Barat.

Dengan demikian, latar belakang pemikiran Muhammad Abduh tentang modernisasi pendidikan Islam bukan hanya berkaitan dengan perubahan sistem pendidikan semata, tetapi juga menyangkut upaya untuk menciptakan sebuah peradaban yang mampu bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai Islam yang mendalam. Pendidikan Islam yang modern, menurut Abduh, adalah pendidikan yang mampu mengintegrasikan pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan umum, serta membentuk individu yang cerdas dan berakhlak mulia untuk memberikan kontribusi positif bagi kemajuan umat dan peradaban Islam.

B. Rumusan Masalah:

1. Bagaimana latar belakang pemikiran Muhammad Abduh mengenai modernisasi pendidikan Islam?

2. Apa saja langkah konkret yang diambil oleh Muhammad Abduh dalam implementasi pemikirannya tentang modernisasi pendidikan Islam?

3. Apa tantangan dan kritik yang dihadapi oleh Muhammad Abduh dalam usaha modernisasi pendidikan Islam?

C. Tujuan Masalah:

1. Untuk menjelaskan latar belakang pemikiran Muhammad Abduh terkait dengan modernisasi pendidikan Islam.

2. Untuk menggambarkan langkah-langkah konkret yang diambil oleh Muhammad Abduh dalam merealisasikan pemikirannya tentang reformasi pendidikan Islam.

3.  Untuk menganalisis tantangan dan kritik terhadap pemikiran Muhammad Abduh dalam modernisasi pendidikan Islam serta dampaknya terhadap perkembangan pendidikan Islam di dunia Muslim.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Kehidupan Muhammad Abduh

Muhammad Abduh lahir pada 1849 di sebuah desa kecil di Mesir. Ia memperoleh pendidikan dasar dari keluarga dan guru lokal sebelum melanjutkan pendidikannya di al-Azhar, pusat pendidikan Islam yang terkenal di Kairo. Pendidikan di al-Azhar memberikan landasan ilmiah yang kuat baginya dalam bidang agama, terutama dalam studi tafsir, hadis, fiqh, dan bahasa Arab.

Selain itu, Abduh juga terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Barat, yang mulai masuk ke dunia Islam selama masa penjajahan. Di sinilah, Abduh mulai mengembangkan pandangannya tentang pentingnya pembaruan dan modernisasi, terutama dalam konteks pendidikan.

Abduh dikenal sebagai salah satu pengikut gerakan Reformis Islam yang lebih luas yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Jamal al-Din al-Afghani. Gerakan ini berusaha untuk memodernisasi pendidikan Islam dengan menggabungkan pemikiran Islam klasik dengan pemikiran Barat yang progresif, seperti rasionalisme, sains, dan filsafat.

Muhammad Abduh kemudian menjadi pengikut setia al-Afghani dan bersama-sama mereka membentuk aliran pemikiran yang dikenal dengan sebutan "pan-Islamisme." Abduh tidak hanya terpengaruh oleh al-Afghani, tetapi juga memperdalam pengaruh pemikiran Barat, terutama dalam hal rasionalisme dan kritik terhadap agama yang dianggap terbelakang. Meskipun begitu, Abduh tetap berusaha untuk tetap mempertahankan nilai-nilai agama Islam dalam kerangka pembaruan tersebut.

Setelah kembali ke Mesir pada tahun 1888, Abduh diangkat sebagai Mufti Mesir, sebuah posisi penting yang memungkinkan dia untuk memiliki pengaruh besar dalam dunia hukum dan agama Islam di negara tersebut. Sebagai Mufti, ia mulai memperkenalkan pandangan-pandangan reformisnya tentang agama, hukum, dan masyarakat. Abduh berusaha untuk memperbarui pemahaman umat Islam terhadap ajaran agama dengan menekankan pentingnya ijtihad (penafsiran kembali) dan rasionalitas.

Salah satu karya terbesar Abduh adalah Tafsir al-Manar, yang disusun bersama sahabatnya, Rashid Rida. Dalam tafsir ini, Abduh berusaha menginterpretasikan Al-Qur'an dengan pendekatan rasional dan kontekstual, menekankan pemahaman terhadap teks-teks suci yang sesuai dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, Abduh juga menulis sejumlah karya penting lainnya, termasuk artikel-artikel dalam berbagai jurnal yang ia tulis atau edit, serta buku-buku yang membahas tentang pendidikan, sosial, dan pemikiran Islam, antara lain Risalat al-Tawhid (Pesan tentang Tauhid) dan Al-Islam wa al-‘Ilm wa al-Madaniyya (Islam, Ilmu Pengetahuan, dan Peradaban).

Pemikiran Abduh berfokus pada beberapa hal utama:

1. Reformasi Pendidikan

Abduh berpendapat bahwa pendidikan Islam harus ditingkatkan untuk mempersiapkan umat Islam menghadapi tantangan modernitas. Ia menekankan pentingnya pendidikan umum yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan rasionalitas, serta mengusulkan agar sekolah-sekolah Islam mengintegrasikan ilmu pengetahuan Barat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam.

2. Pentingnya Ijtihad

Abduh mengajukan gagasan bahwa ijtihad harus dibuka kembali agar umat Islam bisa menyesuaikan ajaran agama dengan perubahan zaman. Ia menolak tafsiran literal yang kaku terhadap teks-teks agama dan mendorong pendekatan yang lebih fleksibel dan rasional.

3. Peningkatan Kualitas Hukum Islam

Abduh berpendapat bahwa hukum Islam perlu diperbarui agar lebih relevan dengan situasi sosial dan politik yang berkembang. Ia menekankan bahwa hukum harus mencerminkan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.

 

4. Perpaduan antara Agama dan Modernitas

Abduh berusaha untuk menyeimbangkan antara ajaran Islam dan pengaruh modernitas, khususnya dalam hal sains, teknologi, dan rasionalisme. Ia meyakini bahwa Islam dapat berkembang sejajar dengan peradaban Barat tanpa kehilangan identitas keislaman.

B. Pemikiran Muhammad Abduh tentang Modernisasi Pendidikan Islam

1. Kebutuhan Akan Modernisasi Pendidikan Islam

Muhammad Abduh menyadari bahwa pendidikan Islam pada masa itu masih terbelakang dan tidak mampu mengimbangi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu kritik utamanya adalah sistem pendidikan yang kaku dan terlalu fokus pada hafalan teks-teks klasik tanpa mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis.

Menurut Abduh, umat Islam harus mampu mengadaptasi perkembangan ilmu pengetahuan modern tanpa mengorbankan nilai-nilai agama. Oleh karena itu, Abduh mendorong reformasi pendidikan Islam agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman dan lebih berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan.

2. Reformasi dalam Pendidikan Agama

Abduh menganggap pendidikan agama dalam dunia Islam perlu direformasi untuk menjawab tantangan zaman. Ia berpendapat bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Pendidikan agama, menurut Abduh, harus memperkenalkan akal dan ilmu pengetahuan sebagai bagian integral dari ajaran Islam. Oleh karena itu, ia mendorong agar kurikulum pendidikan Islam lebih inklusif dengan memasukkan kajian-kajian ilmiah seperti matematika, sains, dan filsafat yang ada dalam tradisi Islam.

 3. Pendidikan yang Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Salah satu pokok pemikiran utama Abduh adalah konsep pendidikan yang seimbang antara kehidupan duniawi dan ukhrawi. Ia percaya bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dunia (sains) dan ilmu agama. Dalam pandangannya, pendidikan Islam harus mengajarkan bahwa kedua aspek tersebut saling melengkapi. Pendidikan agama harus memberikan pemahaman tentang nilai-nilai moral, etika, dan spiritual, sementara pendidikan duniawi harus menumbuhkan kemampuan intelektual dan keterampilan teknis yang dapat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

4. Pentingnya Akal dan Ilmu Pengetahuan

Abduh sangat menekankan pentingnya akal dalam kehidupan seorang Muslim. Ia mendukung pandangan bahwa manusia harus menggunakan akalnya untuk menafsirkan ajaran agama dan berinteraksi dengan dunia sekitarnya. Abduh memandang bahwa wahyu Tuhan dan akal manusia tidak bertentangan, dan bahkan keduanya saling melengkapi. Ia menegaskan bahwa wahyu dan akal merupakan sumber pengetahuan yang penting, dan harus diterapkan dalam kehidupan modern untuk membangun masyarakat yang lebih maju.

5. Kebebasan Berpikir dan Interpretasi Teks

Sebagai seorang reformis, Abduh mengadvokasi kebebasan berpikir dan penafsiran ulang terhadap teks-teks agama. Dalam pemikiran pendidikan, Abduh mendorong para ulama dan intelektual Muslim untuk tidak terjebak dalam penafsiran yang kaku terhadap Al-Qur'an dan Hadis. Ia percaya bahwa umat Islam harus membuka diri terhadap interpretasi baru yang relevan dengan kondisi zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan.

6. Pendidikan untuk Emansipasi Sosial

Abduh juga menganggap pendidikan sebagai sarana untuk emansipasi sosial, termasuk bagi kaum perempuan. Ia berpendapat bahwa perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki, meskipun dalam konteks waktu itu, pemikiran ini cukup kontroversial. Ia menekankan pentingnya pendidikan untuk memajukan masyarakat secara keseluruhan, tanpa memandang gender.

C. Implementasi Pemikiran Muhammad Abduh dalam Pendidikan Islam

1. Reformasi di Al-Azhar

Salah satu langkah konkret yang diambil oleh Muhammad Abduh untuk merealisasikan pemikirannya adalah reformasi pendidikan di al-Azhar. Abduh yang sempat menjabat sebagai mufti Mesir, berusaha mengubah sistem pendidikan di lembaga ini agar lebih terbuka terhadap ilmu pengetahuan modern.

Ia mendorong pengajaran ilmu-ilmu praktis seperti sains, matematika, dan filsafat dalam sistem pendidikan al-Azhar yang pada waktu itu masih terfokus pada kajian agama semata. Reformasi ini, meskipun menghadapi banyak tantangan dari kalangan konservatif, memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pendidikan Islam di Mesir dan dunia Arab.

2. Pendirian Sekolah-sekolah Modern

Selain reformasi di al-Azhar, Abduh juga terlibat dalam pendirian sekolah-sekolah modern di Mesir. Sekolah-sekolah ini tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan modern, seperti fisika, kimia, dan matematika.

3. Pengaruh pada Pendidikan Islam di Dunia Muslim

Pemikiran Abduh tentang modernisasi pendidikan juga mempengaruhi banyak negara Muslim lainnya, terutama di wilayah Arab dan Asia Selatan. Pemikirannya tentang integrasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern menjadi dasar bagi reformasi pendidikan di negara-negara seperti India, Turki, dan Iran. Abduh diakui sebagai pelopor pembaruan pendidikan Islam yang berorientasi pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

D. Kritik dan Tantangan terhadap Pemikiran Muhammad Abduh

Meskipun pemikiran Muhammad Abduh tentang modernisasi pendidikan Islam telah memberikan pengaruh besar, namun tidak lepas dari kritik dan tantangan. Sebagian kalangan konservatif merasa bahwa pemikiran Abduh yang menggabungkan pemikiran Barat dengan Islam dapat merusak kemurnian ajaran Islam. Mereka menganggap bahwa modernisasi pendidikan dapat mengarah pada sekularisasi dan pengabaian nilai-nilai tradisional Islam. Selain itu, tantangan lainnya adalah kurangnya dukungan dari berbagai pihak untuk melaksanakan reformasi pendidikan yang lebih progresif.

Namun, terdapat beberapa kritik dan tantangan terhadap gagasan-gagasannya, baik dari kalangan konservatif maupun modernis. Berikut ini adalah beberapa kritik dan tantangan utama terhadap pemikiran Muhammad Abduh:

1. Interpretasi Rasionalis terhadap Islam

Salah satu kritik utama terhadap pemikiran Abduh adalah pendekatan rasionalis yang ia terapkan terhadap ajaran Islam. Abduh menekankan pentingnya penggunaan akal dalam memahami teks-teks agama, termasuk Al-Qur'an dan Hadis. Hal ini mengundang kritik dari kalangan konservatif atau tradisionalis yang menilai bahwa pemikiran Abduh bisa menyebabkan penurunan otoritas teks-teks suci tersebut, dan bahkan berpotensi mengaburkan makna literal atau tekstual agama.

2. Pendekatan Reformis yang Terlalu Barat-centric

Abduh sering dianggap terlalu terpengaruh oleh pemikiran Barat, terutama dalam hal rasionalisme dan modernisasi. Beberapa kritikus berpendapat bahwa Abduh cenderung lebih mendekati ide-ide Barat, seperti sekularisme dan liberalisme, yang dapat bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini memunculkan kekhawatiran di kalangan sebagian umat Islam bahwa upaya reformasi Abduh terlalu mengutamakan modernisasi dan meninggalkan tradisi Islam yang lebih otentik.

3. Kebijakan dalam Isu Sosial dan Politik

Dalam hal politik, Abduh cenderung menekankan pada konsep "kemajuan" dan "modernitas", dengan harapan masyarakat Islam bisa bersaing dengan dunia Barat. Namun, ada kritik bahwa pemikirannya terlalu terfokus pada aspek rasional dan intelektual, sementara kurang memperhatikan aspek sosial dan politik yang lebih praktis dalam konteks masyarakat Islam. Beberapa pihak menganggap bahwa reformasi yang diusung Abduh belum cukup dalam menghadapi tantangan-tantangan sosial dan politik yang lebih mendasar.

4. Penafsiran Al-Qur'an yang Liberal

Abduh dikenal dengan penafsiran Al-Qur'an yang lebih terbuka dan bebas. Ia mencoba menyelaraskan ajaran-ajaran dalam Al-Qur'an dengan tuntutan zaman. Namun, pendekatan ini mendapat kritik dari para ulama konservatif yang merasa bahwa interpretasi semacam itu bisa mengarah pada relativisme agama, mengaburkan makna yang telah diterima secara tradisional.

5. Perspektif Terhadap Tradisi dan Fikih

Muhammad Abduh juga dikenal dengan pandangannya yang agak kritis terhadap tradisi dan sistem fikih (hukum Islam) yang sudah mapan, terutama mazhab-mazhab klasik. Ia berargumen bahwa ijtihad (penafsiran kembali) harus diperbarui untuk menjawab tantangan zaman. Namun, kritik datang dari kelompok yang berpendapat bahwa kritik Abduh terhadap mazhab klasik berpotensi mengarah pada pembangkangan terhadap ajaran agama yang telah ada.

6. Persoalan Modernisasi dalam Konteks Dunia Islam

Salah satu tantangan besar terhadap pemikiran Abduh adalah implementasi dari ide-idenya dalam konteks dunia Islam yang sangat beragam. Meskipun Abduh mengusulkan pemikiran yang lebih rasional dan progresif, penerapan gagasannya di banyak negara Muslim tidak selalu berhasil, karena tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang sangat berbeda-beda di setiap negara.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pemikiran Muhammad Abduh tentang modernisasi pendidikan Islam adalah salah satu tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam. Melalui gagasannya yang mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan modern, Abduh berusaha menjawab tantangan zaman dan mempersiapkan umat Islam untuk menghadapi perubahan dunia yang semakin kompleks.

Meskipun menghadapi kritik dan tantangan, reformasi pendidikan yang dicetuskan oleh Abduh tetap memberikan dampak besar bagi perkembangan pendidikan Islam di dunia Muslim. Modernisasi pendidikan Islam yang diajukan oleh Abduh tidak hanya sekadar upaya intelektual, tetapi juga bagian dari perjuangan untuk memberdayakan umat Islam dan membawa mereka kembali ke puncak peradaban.

B. Saran

Peningkatan Kualitas Pendidikan Islam: Pendidikan Islam di masa kini perlu mengadaptasi pendekatan modern yang diterapkan oleh Muhammad Abduh, yaitu dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan modern, serta mendorong penggunaan akal sehat dalam memahami ajaran agama.

Penguatan Pemikiran Rasional dalam Pendidikan Islam: Untuk mengatasi tantangan globalisasi, pendidikan Islam perlu lebih menekankan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis, agar umat Islam tidak terjebak dalam dogma, tetapi mampu beradaptasi dengan perubahan zaman

DAFTAR PUSTAKA

Abduh, Muhammad, ‘UPAYA-UPAYA PEMBAHARUAN DAN MODERNISASI ISLAM’, 67.3, pp. 105–15

Abduh, Muhammad, Dan Kh, and Ahmad Dahlan, ‘Perbandingan Konsep Modernisasi Pendidikan Islam Perspektif’, 4 (2024), pp. 9235–47

Andi Hidayat, ‘Pembaharuan Pendidikan Islam Menurut Muhammad Ab’Duh’, Jurnal Mandiri, 2.2 (2018), pp. 369–84 <https://garuda.kemdikbud.go.id/documents/detail/899989>

Falasipatul Asifa, ‘Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Dan Kontribusinya Terhadap Pengembangan Teori Pendidikan Islam’, Jurnal Pendidikan Agama Islam, XV.No.1 (2018), p. 91

Jamil, Sabrun, Sekolah Tinggi, Ilmu Al-quran Stiq, and Kepulauan Riau, ‘Pemikiran Pendidikan Islam Dalam Pandangan Muhammad Abduh’, 2 (2024), pp. 90–99

Khoirurrijal, M Faishal, Abdul Rahim Karim, Arifuddin, and Ishom Fuadi Fikri, ‘Refleksi Pemikiran Muhammad Abduh Dalam Pembaruan Pendidikan Islam’, Ta’dibuna: Jurnal Pendidikan Islam, 12.4 (2023), pp. 334–49, doi:10.32832/tadibuna.v12i4.14337

Mada, Universitas Gadjah, Fuad Iain Manado, Abdul Aziz, Ibn Taimiyah, Ibn Khaldun, Abdul Wahab, and others, ‘Modernisasi Pendidikan Islam ; Telaah Pemikiran Muhammad Abduh Abdul Malik Usman Pendahuluan Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh, 15 (2021), pp. 237–58

Pemikiran, Konsep, Pembaharuan Muhammadiyah, Bidang Pendididkan, Jatmiko Wibisono, Iffat Abdul Ghalib, Husna Nashihin, and others, ‘Attractive : Innovative Education Journal’, 5.2 (2023)

Qudsi, Saifuddin, ‘Pemikiran Pendidikan Muhammad Abduh Dan Proses Modernisasi Pesantren Di Indonesia’, Dirosat : Journal of Islamic Studies, 1.1 (2016), p. 13, doi:10.28944/dirosat.v1i1.5

Yasser, Muhammad, and Muhtarom, Kritik Metode Hafalan Dalam Agenda Pembaruan Pendidikan Islam Muhammad Abduh, Mathla’ul Fatah (Jurnal Pendidikan Dan Studi Islam), 2023, xiv <https://www.stitdaarulfatah.ac.id/journal/index.php/jmf/article/view/66>